Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan secara kolaboratif antara guru dengan pihak-pihak lain yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja guru serta hasil belajar siswa. Dengan kata lain, PTK bertujuan bukan hanya berusaha mengungkapkan penyebab dari berhagai permasalahan pembelajaran yang dihadapi, misalnya kesulitan siswa dalam memahami pokok-pokok bahasan tertentu, tetapi yang lebih penting lagi adalah memberikan solusi berupa tindakan untuk mengatasi permasalahan pembelajaran tersebut.
Pada bagian terdahulu telah dipaparkan dengan
jelas tentang hakikat dan karakteristik PTK dan pada bagian ini akan
dilanjutkan dengan mengemukakan uraian tentang prosedur PTK yang mencakup
penetapan fokus permasalahan, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan yang
disertai observasi dan interpretasi, analisis
dan refleksi, serta apabila perlu perencanaan tindak lanjut. Dengan demikian,
Anda dapat memahami hakikat dan prosedur pelaksanaan PTK dan tidak mudah
terjebak masuk kembali ke dalam wilayah penelitian formal.
Berikut ini diberikan penjelasan dari setiap
langkah pada siklus Action Research yang diadaptasi dari berbagai referensi.
Rincian dari penjelasan tersebut sebagai berikut.
1. Pra-refleksi
Untuk memulai penelitian tindakan kelas, Anda
perlu menentukan suatu topik. Topik tersebut dapat berasal dari keadaan setiap
unsur yang mempengaruhi proses belajar mengajar yang terjadi di dalam kelas.
Misalnya:
a) Para siswa di kelas bahasa saya mengalami
kesulitan mempraktikan dialog di depan kelas.
b) Dalam pelajaran mengarang, tidak banyak
siswa yang mau menuliskan kembali karangannya, meskipun saya sudah memberikan
strategi/ caranya.
c) Dari jawaban soal-soal tes sastra yang saya
buat, para siswa lebih banyak menggunakan kalimat-kalimat saya ketika saya
mengajar, tidak ada tanda-tanda para siswa saya membaca buku yang
telahdisarankan.
Agar masalah-masalah umum seperti di atas
dapat menjadi fokus penelitian tindakan kelas, Anda perlu menyusunnya kembali
agar lebih konkrit, agar lebih mudah diubah atau diperbaiki. Anda perlu
merencanakan suatu tindakan yang bisa Anda cobakan untuk mengetahui apakah
tindakan tersebut berpengaruh terhadap masalah utama Anda.
Secara khusus masalah di atas dapat dibuat
sebagai berikut.
a) Perubahan-perubahan apakah yang dapat
dilakukan terhadap pokok bahasan berbicara agar para siswa memiliki
keterampilan awal yang diperlukan untuk melakukan dialog di depan kelas?
b) Apakah ada teknik mengajar lainnya yang
lebih dapat mendorong para siswa menggunakan strategi revisi dalam mengarang?
c) Bagaimana mengubah soal-soal ujian sastra
sehingga para siswa mau membaca?
Pengamatan pendahuluan dan refleksi
kritis biasanya diperlukan untuk mengubah masalah umum menjadi topik
tindakan. Umumnya masalah tindakan secara langsung dapat memberikan saran
pemecahan: masalah-masalah pendidikan tidaklah sesederhana itu. Perubahan yang
dibuat mungkin dapat masuk dalam salah satu kategori ini: (a) perubahan dalam
silabus atau kurikulum, (b) perubahan dalam teknik mengajar atau menggunakan
metode baru, dan (c) perubahan sifat evaluasi.
Dalam penelitian tindakan Anda sebenarnya
mempromosikan perubahan. Untuk melaporkan adanya pengaruh perubahan Anda perlu
merekam situasi atau keadaan sebelum dan sesudah perubahan. Pengamatan-pengamatan
apakah yang mendorong perhatian Anda? Bagaimanakah keadaan dan praktiknya saat
ini? Beberapa teknik observasi dapat digunakan sebelum dan sesudah terjadi
perubahan untuk mengetahui pengaruh perubahan tersebut.
2. Perencanaan
Hasil yang sangat penting dari tahap
perencanaan ialah rencana rinci mengenai tindakan yang ingin Anda kerjakan atau
perubahan yang perlu Anda lakukan. Siapa akan mengerjakan apa, dan kapan?
Bagaimana Anda melakukan revisi terhadap strategi mengajar Anda? Coba pikirkan
apakah rencana Anda tersebut praktis dan kira-kira bagaimana tanggapan orang
lain. Anda perlu juga menyusun rencana untuk observasi atau monitoring
perubahan-perubahan/ tindakan Anda tersebut. Anda perlu menyiapkan alat
pengumpul informasi yang akan Anda gunakan. Berikut ini satu contoh kegiatan
yang dilakukan pada tahap perencanaan dalam pelaksanaan PTK.
Tahap perencanaan
merupakan tahap awal yang berupa kegiatan untuk menentukan langkah-langkah yang
akan dilakukan oleh peneliti untuk memecahkan masalah yang akan dihadapi. Pada
tahap ini, peneliti melakukan koordinasi dengan guru mata pelajaran Bahasa dan
Sastra Indonesia mengenai waktu pelaksanaan penelitian, materi yang akan
diajarakan, dan bagaimana rencana pelaksanaan penelitiannya.
Permasalahan yang
muncul berdasarkan data observasi dan wawancara dengan guru Bahasa dan Sastra
Indonesia kelas X3 memberikan keterangan bahwa pada kelas X3 mempunyai nilai
yang cukup rendah dalam keterampilan menulis. Berdasarkan permasalahan
tersebut, peneliti dapat mencari penyelesaian yang baik untuk meningkatkan
keterampilan menulis khususnya keterampilan menulis paragraf eksposisi. Hal
yang dilakukan peneliti pada tahap perencanaan ini adalah (1) menyusun rencana
pembelajaran sesuai dengan tindakan yang akan dilakukan; (2) menyusun pedoman
observasi, wawancara, dan jurnal; (3) menyusun rancangan evaluasi, (4)
mempersiapkan media yang akan digunakan yaitu media animasi; dan (5)
mempersiapkan alat dokumentasi.
3. Tindakan
Perlu diingat juga, dalam melaksanakan rencana
Anda tersebut, jangan heran kalau rencana-rencana tidak akan terlaksana
sebagaimana diharapkan. Anda tidak perlu ragu-ragu untuk membuat
belokan-belokan kecil dari rencana Anda tersebut berdasarkan pengalaman dan
masukan yang Anda terima. Catatlah perubahan-perubahan kecil yang Anda lakukan
tersebut dan beri alasan mengapa terjadi perubahan.
Tindakan tersebut kemudian dilaksanakan untuk
memperbaiki masalah yang telah diidentifikasi peneliti. Langkah-langkah praktis
tindakan diuraikan. Apa yang pertama kali dilakukan? Bagaimana organisasi
kelas? Siapa yang perlu menjadi kolabolator peneliti? Siapa yang mengambil
data? Pada saat pelaksanaan tindakan ini, guru benar-benar harus memahami
terlebih dahulu karakter siswa sehingga jangan sampai siswa menjadi objek
tindakan, namun guru harus mengambil peran pemberdayaan siswa sehingga siswa
menjadi agen perubahan bagi dirinya dan kelas. Kelas diciptakan sebagai
komunitas belajar (learning community) daripada laboratorium tindakan.
Jadi, cara-cara empiris seperti membagi kelas
menjadi kelompok kontrol dan treatment harus dihindarkan.
Berikut ini satu contoh kegiatan yang dilakukan pada tahap tindakan dalam
pelaksanaan PTK.
Tindakan-tindakan yang dilakukan dalam
penelitian ini adalah.
a. Pendahuluan
Pada bagian
pendahuluan ini guru memberikan apersepsi pembelajaran. Tujuan apersepsi adalah
untuk mengkondisikan siswa agar siap menerima pelajaran dengan baik. Kegiatan
ini berupa pemberian ilustrasi mengenai pembelajaran menulis paragraf
eksposisi, ilustrasi tentang media animasi yang akan digunakan dan menyampaikan
tujuan serta manfaat pembelajaran menulis paragraf eksposisi yang akan dicapai
pada hari itu.
b. Kegiatan inti
Pada kegiatan inti
ini, guru menyampaikan materi menulis paragraf eksposisi yang sebelumnya guru
menyajikan animasi melalui LCD kepada siswa. Kemudian, siswa disuruh
berkelompok untuk menemukan permasalahan yang terdapat pada paragraf seperti
isi paragraf, pola pengembangan, ciri-ciri, dan pengertian paragraf eksposisi.
Perwakilan dari masing-masing kelompok melaporkan hasil diskusi, dan kelompok
yang lain menanggapinya. Melalui kegiatan ini, siswa dilatih untuk menilai
hasil kerja kelompok lain. Guru membantu siswa untuk menyimpulkan permasalahan
yang ditemukan.
Kegiatan dilanjutkan
dengan guru menyajikan animasi bagan arus melalui LCD. Siswa kembali disuruh
untuk mengamati dan menemukan permasalahan-permasalahan yang terdapat pada
animasi tersebut.
Setelah itu, siswa
ditugasi untuk membuat paragraf eksposisi sesuai animasi yang disajikan secara
individu. Pada tahap terakhir, siswa dan guru membahas mengenai paragraf
eksposisi yang ditulis oleh siswa. Guru menjelaskan tentang paragraf eksposisi
dengan pola pengembangan yang benar sesuai dengan animasi yang disajikan.
c. Penutup
Kegiatan pembelajaran
menulis paragraf eksposisi ditutup dengan merefleksi hasil pembelajaran pada
hari itu. Guru memberikan kesempatan pada siswa yang belum paham untuk bertanya
mengenai materi menulis paragraf. Melalui kegiatan ini, dapat diketahui
kesulitankesulitan yang siswa hadapi. Pembelajaran menulis paragraf eksposisi
ditutup dengan siswa bersama guru menyimpulkan materi pembelajaran yang baru
saja dilaksanakan. Guru selalu memberikan dorongan dan motivasi pada siswa
untuk terus belajar menulis paragraf eksposisi.
4. Pengamatan
Pengamatan yang dimaksud dalam AR ini adalah
proses pengambilan data dari pelaksanaan tindakan atau kegiatan pengamatan
(pengambilan data) untuk memotret sejauh mana efek tindakan telah mencapai
sasaran. Tindakan dalam AR berupa PBM yang melibatkan seluruh komponen pembelajaran
dengan aktor utama siswa dan guru. Oleh karena itu, setiap perilaku siswa dan
guru yang terjadi dalam PBM yang menuju pada tercapainya tujuan pembelajaran
menjadi fokus pengamatan.
Pengamatan ini haruslah menghasilkan laporan
sebagaimana apa yang terjadi di dalam PBM. Agar pengamatan dapat secermat
mungkin diperlukan alat pengambil data yang beragam sesuai dengan
karakteristik PBM. Penggunaan alat pengambil data secara beragam ini
memungkinkan
peneliti dapat secara cermat menangkap setiap
detail dari informasi yang diperlukan untuk membuat laporan.
Efek dari suatu intervensi (action)
terus dimonitor secara reflektif. Data-data apa saja yang perlu dikumpulkan?
Data kuantitatif tentang kemajuan siswa (nilai) dan data kualitatif
(minat/suasana kelas) perlu dikumpulkan. Pendek kata, pada langkah ini,
peneliti menguraikan jenis-jenis data yang dikumpulkan, cara pengumpulan data,
dan alat koleksi data (angket, wawancara, sosiometri, jurnal, dll.) Juga
data-data yang dapat dikumpulkan dari learning logs (catatan
reflektif) tentang fenomena kelas yang dibuat oleh siswa dan guru merupakan
informasi yang berharga.
Berikut ini satu contoh kegiatan yang
dilakukan pada tahap pengamatan dalam pelaksanaan PTK.
Selama penelitian
berlangsung, peneliti melakukan pengamatan terhadap kegiatan siswa dalam
kegiatan pembelajaran. Melalui lembar observasi, peneliti mengamati tingkah
laku siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Aspek-aspek yang dinilai
adalah hasil tulisan siswa serta perilaku siswa selama mengikuti kegiatan
pembelajaran.
Selain menggunakan
lembar observasi, peneliti juga melakukan pemotretan selama pembelajaran
berlangsung. Foto yang diambil berupa aktivitas-aktivitas yang dilakukan siswa
dalam kegiatan
pembelajaran. Setelah
kegiatan pembelajaran selesai, peneliti membagikan lembar jurnal kepada siswa
untuk mengetahui tanggapan, kesan, dan pesan siswa terhadap materi, proses
pembelajaran, dan teknik yang digunakan guru dalam kegiatan pembelajaran
sehingga dapat
memperbaiki tindakan
pada siklus berikutnya. Selain jurnal siswa, peneliti juga menyiapkan jurnal
guru yang meliputi respon siswa dalam proses pembelajaran yang berlangsung,
hambatan yang dialami oleh guru, pesan dan kesan, serta harapan guru pada
proses pembelajaran berikutnya.
Untuk mengetahui
tanggapan siswa terhadap pembelajaran menulis hasil wawancara, peneliti juga
melakukan wawancara kepada siswa. Wawancara dilakukan di luar jam pelajaran
terutama kepada siswa yang mendapatkan nilai tinggi, sedang, dan rendah. Hal
ini dilakukan untuk mengetahui sikap positif dan negatif siswa dalam kegiatan
pembelajaran menulis hasil wawancara.
5. Refleksi
Refleksi adalah kegiatan mengulas secara
kritis (reflective) tentang perubahan yang terjadi pada: siswa,
guru, dan suasana kelas. Pada tahap ini, guru sebagai penliti menjawab
pertanyaan mengapa (why), bagaimana (how), dan sejauh mana (to
what extent) intervensi ini telah menghasilkan perubahan secara signifikan.
Kolaborasi dengan rekan (trermasuk para ahli) akan memainkan peran sentral dalam
memutuskan judging the value (seberapa jauh action telah
membawa perubahan: apa/ di mana perubahan terjadi, mengapa demikian, apa
kelebihan/kekurangan, langkah-langkah penyempurnaan, dsb.) McTaggart (dalam
Connle, 1993) menggarisbawahi bahwa salah satu kriteria action
research adalah:
... parsipatory action
research is concerned simultaneously with changing individuals, on the one
hand, and the other culture of the groups, institutions, and societies to which
the belongs ….
Pada akhir setiap siklus Anda perlu merefleksi
secara kritis mengenai hal-hal yang sudah Anda lakukan. Bagaimana efektivitas
perubahan tersebut? Apa yang Anda pelajari? Hal-hal apa yang menjadi penghalang
perubahan? Bagaimana Anda memperbaiki perubahanperubahan yang akan Anda buat? Jawaban
atas dua pertanyaan terakhir akan membawa Anda pada putaran tindakan
selanjutnya.
Untuk itulah, disarankan guru sebagai peneliti
untuk selalu menulis learning logs (catatan reflektif-kritis
tentang fenomena kelas setiap hari). Dari catatan-catatan itulah, peneliti akan
responsif terhadap perubahan yang berkembang di kelas. Perubahan-perubahan yang
terjadi pada diri siswa dipotret (disajikan sebagai bukti), misalnya: hasil
pemantauan keterampilan menceritakan pengalaman pribadi, portofolio (catatan-catatan
tentang hasil/prestasi siswa), perubahan sikap percaya diri, antusiasme,
responsif, keinginan tahu. Demikian pula perubahan-perubahan yang terjadi pada
diri guru sebagai peneliti, seperti: peningkatan pengetahuan tentang
pengelolaan kelas, kepercayaan diri, kepuasan diri setelah mengajar. Suasana
perubahan pada atmosfir kelas juga disajikan, seperti: suasana kelas yang
mendorong pembelajaran, penampilan kelas yang menyajikan tayangan hasil
anak-anak, suasana kelas yang lebih akrab, dsb.
Apa yang terjadi pada suatu siklus, apabila
peneliti belum merasa puas? Alternatif pertama adalah guru (peneliti) dapat
menyempurnakan intervensi sehingga pada siklus berikutnya dikembangkan dan
dilakukan perubahan-perubahan berdasarkan saran siswa ataupun berdasarnya hasil
pengamatan yang dilakukan oleh peneliti. Yang jelas, setiap siklus harus ada
upaya untuk ke arah perbaikan dalam hal proses sehingga menghasilkan
pembelajaran yang berkualitas. Yang penting bahwa action research berorientasi
pada improvement yang sering kali jalannya berkelok-kelok.
Berikut ini adalah contoh refleksi yang
dilakukan oleh peneliti setelah melakukan satu putaran penelitian tindakan
kelas.
Berdasarkan hasil tes
dan nontes di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran pada siklus I ini belum
memuaskan. Pada hasil tes terlihat bahwa rata-rata menulis hasil wawancara pada
siklus I hanya 69,73 dan termasuk dalam kategori cukup. Sehingga belum mencapai
target yang ditentukan. Siswa yang mencapai target hanya ada 20 siswa atau
sebesar 52.63% dari jumlah keseluruhan siswa. Sehingga perlu diadakan siklus II
agar semua siswa mencapai target yang telah ditentukan.
Dalam indikator
membuat daftar pertanyaan, kelompok yang mendapat nilai rendah sebesar 65 dan
termasuk dalam kategori cukup. Hal ini disebabkan kelompok tersebut belum mampu
membuat pertanyaan dengan baik. Mereka tidak memperhatikan aspek kelengkapan
isi (apa, siapa, di mana, kapan, mengapa, dan bagaimana). Mereka hanya membuat
pertanyaan dengan menggunakan kata tanya bagaimana, apa, siapa, dari mana.
Sedangkan kata tanya kapan dan
mengapa belum
digunakan.
Selanjutnya dalam
indikator mencatat pokok-pokok informasi, kelompok yang mendapat nilai rendah
sebesar 60 dan termasuk dalam kategori cukup. Hal ini disebabkan siswa dalam
kelompok tersebut tidak mencatat pokok-pokok informasi dengan baik. Mereka
mencatat jawaban dengan singkat tidak menguraikan secara jelas. Misalnya pada
pertanyaan siapa yang mengajari Audy dalam menyanyi? Hanya ditulis Ayah saya.
Padahal saat wawancara berlangsung narasumber memberi jawaban dengan uraian
yang cukup panjang dan jelas. Sehingga ada beberapa pokok-pokok informasi yang
tidak tercatat. Hal ini disebabkan siswa mengalami kesulitan dalam menyimak dan
menulis apa yang dibicarakan oleh narasumber, karena berbicara lebih cepat
daripada menulis. Sehingga ada beberapa pokok-pokok informasi yang tidak
tercatat. Oleh karena itu, perlu ada perbaikan dalam siklus II yaitu dengan
memberi walkman untuk tiap-tiap kelompok, agar semua dapat terekam. Sehingga
selain mencatat siswa bisa memutar ulang kaset tersebut untuk melengkapi
pokok-pokok informasi yang tidak tercatat.
Dalam indikator
menulis hasil wawancara siswa yang mendapat nilai rendah sebesar 49 dan
termasuk dalam kategori sangat kurang. Hal ini disebabkan siswa tersebut hanya
menulis hasil wawancara dengan satu paragraf, dan isinya hanya mencakup 2 pokok
informasi, yang lainnya tidak sesuai dengan pokok-pokok informasi. Padahal
dalam kelompok tersebut ada 11 pokok informasi. Sehingga hasil wawancara yang
ditulis siswa tersebut tidak memperhatikan aspek kelengkapan isi dan kesesuaian
atau keakuratan.
Kesiapan siswa dalam
mengikuti pembelajaran menulis hasil wawancara dengan permainan simulasi yang
diajarkan dalam pembelajaran kontekstual pada siklus I belum memuaskan. Namun
demikian, pembelajaran dengan teknik permainan simulasi yang diajarkan melalui
pembelajaran kontekstual ini memberikan dampak positif terhadap sikap atau
tingkah laku siswa dalam menerima pembelajaran. Pada siklus I, masih ditemukan
beberapa perilaku negatif yang terjadi pada saat pembelajaran. Pada siklus I
ini sekitar 42,1% siswa masih menunjukkan perilaku yang negatif dalam menerima
pelajaran, konsentrasi siswa dalam memperhatikan penjelasan guru belum penuh
dan belum terfokus, mereka cenderung mengobrol dengan temannya. Selain itu, ada
beberapa perilaku negatif yang muncul yaitu masih ada siswa yang tidak
berpartisipasi secara aktif hanya ada 22 siswa atau sebesar 57,8% yang aktif.
Kemudian sikap siswa dalam menulis hasil wawancara juga masih ada yang bersikap
tidak baik seperti tiduran di atas meja, melihat tulisan teman, dan ada
beberapa siswa yang menulis dengan memainkan handphone. Oleh karena itu, perlu
adanya perbaikan pada siklus berikutnya yaitu dengan cara guru lebih mendesain
pembelajaran agar lebih menarik lagi, sehingga siswa akan memperhatikan guru.
Selain itu, diharapkan guru lebih tegas lagi dalam memberi teguran kepada siswa
yang tidak memperhatikan penjelasan guru. Kemudian untuk mengatasi siswa yang
kurang aktif khususnya dalam bersimulasi dalam wawancara maka pada siklus
berikutnya dalam satu kelompok dibagi tugas 2 siswa bertugas sebagai tokoh atau
narasumber, 2 siswa bertugas sebagai 2 siswa bertugas mencatat pokok-pokok
informasi. Dengan demikian siswa akan lebih aktif, berbeda halnya apabila
pembagian tugas hanya 1 siswa sebagai wawancara, dan 4 siswa sebagai pencatat
pokok-pokok informasi. Dengan 4 siswa yang bertugas sebagai pencatat
pokok-pokok informasi maka hanya 1 atau 2 siswa saja yang aktif sedangkan yang
lainnya hanya mengobrol sendiri.
No comments:
Post a Comment