Andi Muhammad Yahya: PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Sunday, 30 March 2014

PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN KELAS


Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan secara kolaboratif antara guru dengan pihak-pihak lain yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja guru serta hasil belajar siswa. Dengan kata lain, PTK bertujuan bukan hanya berusaha mengungkapkan penyebab dari berhagai permasalahan pembelajaran yang dihadapi, misalnya kesulitan siswa dalam memahami pokok-pokok bahasan tertentu, tetapi yang lebih penting lagi adalah memberikan solusi berupa tindakan untuk mengatasi permasalahan pembelajaran tersebut.
Pada bagian terdahulu telah dipaparkan dengan jelas tentang hakikat dan karakteristik PTK dan pada bagian ini akan dilanjutkan dengan mengemukakan uraian tentang prosedur PTK yang mencakup penetapan fokus permasalahan, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan yang
disertai observasi dan interpretasi, analisis dan refleksi, serta apabila perlu perencanaan tindak lanjut. Dengan demikian, Anda dapat memahami hakikat dan prosedur pelaksanaan PTK dan tidak mudah terjebak masuk kembali ke dalam wilayah penelitian formal.

Berikut ini diberikan penjelasan dari setiap langkah pada siklus Action Research yang diadaptasi dari berbagai referensi. Rincian dari penjelasan tersebut sebagai berikut.

1. Pra-refleksi
Untuk memulai penelitian tindakan kelas, Anda perlu menentukan suatu topik. Topik tersebut dapat berasal dari keadaan setiap unsur yang mempengaruhi proses belajar mengajar yang terjadi di dalam kelas. Misalnya:
a) Para siswa di kelas bahasa saya mengalami kesulitan mempraktikan dialog di depan kelas.
b) Dalam pelajaran mengarang, tidak banyak siswa yang mau menuliskan kembali karangannya, meskipun saya sudah memberikan strategi/ caranya.
c) Dari jawaban soal-soal tes sastra yang saya buat, para siswa lebih banyak menggunakan kalimat-kalimat saya ketika saya mengajar, tidak ada tanda-tanda para siswa saya membaca buku yang telahdisarankan.
Agar masalah-masalah umum seperti di atas dapat menjadi fokus penelitian tindakan kelas, Anda perlu menyusunnya kembali agar lebih konkrit, agar lebih mudah diubah atau diperbaiki. Anda perlu merencanakan suatu tindakan yang bisa Anda cobakan untuk mengetahui apakah tindakan tersebut berpengaruh terhadap masalah utama Anda.

Secara khusus masalah di atas dapat dibuat sebagai berikut.
a) Perubahan-perubahan apakah yang dapat dilakukan terhadap pokok bahasan berbicara agar para siswa memiliki keterampilan awal yang diperlukan untuk melakukan dialog di depan kelas?
b) Apakah ada teknik mengajar lainnya yang lebih dapat mendorong para siswa menggunakan strategi revisi dalam mengarang?
c) Bagaimana mengubah soal-soal ujian sastra sehingga para siswa mau membaca?

Pengamatan pendahuluan dan refleksi kritis biasanya diperlukan untuk mengubah masalah umum menjadi topik tindakan. Umumnya masalah tindakan secara langsung dapat memberikan saran pemecahan: masalah-masalah pendidikan tidaklah sesederhana itu. Perubahan yang dibuat mungkin dapat masuk dalam salah satu kategori ini: (a) perubahan dalam silabus atau kurikulum, (b) perubahan dalam teknik mengajar atau menggunakan metode baru, dan (c) perubahan sifat evaluasi.
Dalam penelitian tindakan Anda sebenarnya mempromosikan perubahan. Untuk melaporkan adanya pengaruh perubahan Anda perlu merekam situasi atau keadaan sebelum dan sesudah perubahan. Pengamatan-pengamatan apakah yang mendorong perhatian Anda? Bagaimanakah keadaan dan praktiknya saat ini? Beberapa teknik observasi dapat digunakan sebelum dan sesudah terjadi perubahan untuk mengetahui pengaruh perubahan tersebut.

2. Perencanaan
Hasil yang sangat penting dari tahap perencanaan ialah rencana rinci mengenai tindakan yang ingin Anda kerjakan atau perubahan yang perlu Anda lakukan. Siapa akan mengerjakan apa, dan kapan? Bagaimana Anda melakukan revisi terhadap strategi mengajar Anda? Coba pikirkan apakah rencana Anda tersebut praktis dan kira-kira bagaimana tanggapan orang lain. Anda perlu juga menyusun rencana untuk observasi atau monitoring perubahan-perubahan/ tindakan Anda tersebut. Anda perlu menyiapkan alat pengumpul informasi yang akan Anda gunakan. Berikut ini satu contoh kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan dalam pelaksanaan PTK.
Tahap perencanaan merupakan tahap awal yang berupa kegiatan untuk menentukan langkah-langkah yang akan dilakukan oleh peneliti untuk memecahkan masalah yang akan dihadapi. Pada tahap ini, peneliti melakukan koordinasi dengan guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia mengenai waktu pelaksanaan penelitian, materi yang akan diajarakan, dan bagaimana rencana pelaksanaan penelitiannya.
Permasalahan yang muncul berdasarkan data observasi dan wawancara dengan guru Bahasa dan Sastra Indonesia kelas X3 memberikan keterangan bahwa pada kelas X3 mempunyai nilai yang cukup rendah dalam keterampilan menulis. Berdasarkan permasalahan tersebut, peneliti dapat mencari penyelesaian yang baik untuk meningkatkan keterampilan menulis khususnya keterampilan menulis paragraf eksposisi. Hal yang dilakukan peneliti pada tahap perencanaan ini adalah (1) menyusun rencana pembelajaran sesuai dengan tindakan yang akan dilakukan; (2) menyusun pedoman observasi, wawancara, dan jurnal; (3) menyusun rancangan evaluasi, (4) mempersiapkan media yang akan digunakan yaitu media animasi; dan (5) mempersiapkan alat dokumentasi.

3. Tindakan
Perlu diingat juga, dalam melaksanakan rencana Anda tersebut, jangan heran kalau rencana-rencana tidak akan terlaksana sebagaimana diharapkan. Anda tidak perlu ragu-ragu untuk membuat belokan-belokan kecil dari rencana Anda tersebut berdasarkan pengalaman dan masukan yang Anda terima. Catatlah perubahan-perubahan kecil yang Anda lakukan tersebut dan beri alasan mengapa terjadi perubahan.
Tindakan tersebut kemudian dilaksanakan untuk memperbaiki masalah yang telah diidentifikasi peneliti. Langkah-langkah praktis tindakan diuraikan. Apa yang pertama kali dilakukan? Bagaimana organisasi kelas? Siapa yang perlu menjadi kolabolator peneliti? Siapa yang mengambil data? Pada saat pelaksanaan tindakan ini, guru benar-benar harus memahami terlebih dahulu karakter siswa sehingga jangan sampai siswa menjadi objek tindakan, namun guru harus mengambil peran pemberdayaan siswa sehingga siswa menjadi agen perubahan bagi dirinya dan kelas. Kelas diciptakan sebagai komunitas belajar (learning community) daripada laboratorium tindakan.

Jadi, cara-cara empiris seperti membagi kelas menjadi kelompok kontrol dan treatment harus dihindarkan. Berikut ini satu contoh kegiatan yang dilakukan pada tahap tindakan dalam pelaksanaan PTK.
Tindakan-tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah.
a. Pendahuluan
Pada bagian pendahuluan ini guru memberikan apersepsi pembelajaran. Tujuan apersepsi adalah untuk mengkondisikan siswa agar siap menerima pelajaran dengan baik. Kegiatan ini berupa pemberian ilustrasi mengenai pembelajaran menulis paragraf eksposisi, ilustrasi tentang media animasi yang akan digunakan dan menyampaikan tujuan serta manfaat pembelajaran menulis paragraf eksposisi yang akan dicapai pada hari itu.
b. Kegiatan inti
Pada kegiatan inti ini, guru menyampaikan materi menulis paragraf eksposisi yang sebelumnya guru menyajikan animasi melalui LCD kepada siswa. Kemudian, siswa disuruh berkelompok untuk menemukan permasalahan yang terdapat pada paragraf seperti isi paragraf, pola pengembangan, ciri-ciri, dan pengertian paragraf eksposisi. Perwakilan dari masing-masing kelompok melaporkan hasil diskusi, dan kelompok yang lain menanggapinya. Melalui kegiatan ini, siswa dilatih untuk menilai hasil kerja kelompok lain. Guru membantu siswa untuk menyimpulkan permasalahan yang ditemukan.
Kegiatan dilanjutkan dengan guru menyajikan animasi bagan arus melalui LCD. Siswa kembali disuruh untuk mengamati dan menemukan permasalahan-permasalahan yang terdapat pada animasi tersebut.
Setelah itu, siswa ditugasi untuk membuat paragraf eksposisi sesuai animasi yang disajikan secara individu. Pada tahap terakhir, siswa dan guru membahas mengenai paragraf eksposisi yang ditulis oleh siswa. Guru menjelaskan tentang paragraf eksposisi dengan pola pengembangan yang benar sesuai dengan animasi yang disajikan.
c. Penutup
Kegiatan pembelajaran menulis paragraf eksposisi ditutup dengan merefleksi hasil pembelajaran pada hari itu. Guru memberikan kesempatan pada siswa yang belum paham untuk bertanya mengenai materi menulis paragraf. Melalui kegiatan ini, dapat diketahui kesulitankesulitan yang siswa hadapi. Pembelajaran menulis paragraf eksposisi ditutup dengan siswa bersama guru menyimpulkan materi pembelajaran yang baru saja dilaksanakan. Guru selalu memberikan dorongan dan motivasi pada siswa untuk terus belajar menulis paragraf eksposisi.

4. Pengamatan
Pengamatan yang dimaksud dalam AR ini adalah proses pengambilan data dari pelaksanaan tindakan atau kegiatan pengamatan (pengambilan data) untuk memotret sejauh mana efek tindakan telah mencapai sasaran. Tindakan dalam AR berupa PBM yang melibatkan seluruh komponen pembelajaran dengan aktor utama siswa dan guru. Oleh karena itu, setiap perilaku siswa dan guru yang terjadi dalam PBM yang menuju pada tercapainya tujuan pembelajaran menjadi fokus pengamatan.
Pengamatan ini haruslah menghasilkan laporan sebagaimana apa yang terjadi di dalam PBM. Agar pengamatan dapat secermat mungkin diperlukan alat pengambil data yang beragam sesuai dengan karakteristik PBM. Penggunaan alat pengambil data secara beragam ini memungkinkan
peneliti dapat secara cermat menangkap setiap detail dari informasi yang diperlukan untuk membuat laporan.
Efek dari suatu intervensi (action) terus dimonitor secara reflektif. Data-data apa saja yang perlu dikumpulkan? Data kuantitatif tentang kemajuan siswa (nilai) dan data kualitatif (minat/suasana kelas) perlu dikumpulkan. Pendek kata, pada langkah ini, peneliti menguraikan jenis-jenis data yang dikumpulkan, cara pengumpulan data, dan alat koleksi data (angket, wawancara, sosiometri, jurnal, dll.) Juga data-data yang dapat dikumpulkan dari learning logs (catatan reflektif) tentang fenomena kelas yang dibuat oleh siswa dan guru merupakan informasi yang berharga.

Berikut ini satu contoh kegiatan yang dilakukan pada tahap pengamatan dalam pelaksanaan PTK.
Selama penelitian berlangsung, peneliti melakukan pengamatan terhadap kegiatan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Melalui lembar observasi, peneliti mengamati tingkah laku siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Aspek-aspek yang dinilai adalah hasil tulisan siswa serta perilaku siswa selama mengikuti kegiatan pembelajaran.
Selain menggunakan lembar observasi, peneliti juga melakukan pemotretan selama pembelajaran berlangsung. Foto yang diambil berupa aktivitas-aktivitas yang dilakukan siswa dalam kegiatan
pembelajaran. Setelah kegiatan pembelajaran selesai, peneliti membagikan lembar jurnal kepada siswa untuk mengetahui tanggapan, kesan, dan pesan siswa terhadap materi, proses pembelajaran, dan teknik yang digunakan guru dalam kegiatan pembelajaran sehingga dapat
memperbaiki tindakan pada siklus berikutnya. Selain jurnal siswa, peneliti juga menyiapkan jurnal guru yang meliputi respon siswa dalam proses pembelajaran yang berlangsung, hambatan yang dialami oleh guru, pesan dan kesan, serta harapan guru pada proses pembelajaran berikutnya.
Untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap pembelajaran menulis hasil wawancara, peneliti juga melakukan wawancara kepada siswa. Wawancara dilakukan di luar jam pelajaran terutama kepada siswa yang mendapatkan nilai tinggi, sedang, dan rendah. Hal ini dilakukan untuk mengetahui sikap positif dan negatif siswa dalam kegiatan pembelajaran menulis hasil wawancara.

5. Refleksi
Refleksi adalah kegiatan mengulas secara kritis (reflective) tentang perubahan yang terjadi pada: siswa, guru, dan suasana kelas. Pada tahap ini, guru sebagai penliti menjawab pertanyaan mengapa (why), bagaimana (how), dan sejauh mana (to what extent) intervensi ini telah menghasilkan perubahan secara signifikan. Kolaborasi dengan rekan (trermasuk para ahli) akan memainkan peran sentral dalam memutuskan judging the value (seberapa jauh action telah membawa perubahan: apa/ di mana perubahan terjadi, mengapa demikian, apa kelebihan/kekurangan, langkah-langkah penyempurnaan, dsb.) McTaggart (dalam Connle, 1993) menggarisbawahi bahwa salah satu kriteria action research adalah:
... parsipatory action research is concerned simultaneously with changing individuals, on the one hand, and the other culture of the groups, institutions, and societies to which the belongs ….

Pada akhir setiap siklus Anda perlu merefleksi secara kritis mengenai hal-hal yang sudah Anda lakukan. Bagaimana efektivitas perubahan tersebut? Apa yang Anda pelajari? Hal-hal apa yang menjadi penghalang perubahan? Bagaimana Anda memperbaiki perubahanperubahan yang akan Anda buat? Jawaban atas dua pertanyaan terakhir akan membawa Anda pada putaran tindakan selanjutnya.

Untuk itulah, disarankan guru sebagai peneliti untuk selalu menulis learning logs (catatan reflektif-kritis tentang fenomena kelas setiap hari). Dari catatan-catatan itulah, peneliti akan responsif terhadap perubahan yang berkembang di kelas. Perubahan-perubahan yang terjadi pada diri siswa dipotret (disajikan sebagai bukti), misalnya: hasil pemantauan keterampilan menceritakan pengalaman pribadi, portofolio (catatan-catatan tentang hasil/prestasi siswa), perubahan sikap percaya diri, antusiasme, responsif, keinginan tahu. Demikian pula perubahan-perubahan yang terjadi pada diri guru sebagai peneliti, seperti: peningkatan pengetahuan tentang pengelolaan kelas, kepercayaan diri, kepuasan diri setelah mengajar. Suasana perubahan pada atmosfir kelas juga disajikan, seperti: suasana kelas yang mendorong pembelajaran, penampilan kelas yang menyajikan tayangan hasil anak-anak, suasana kelas yang lebih akrab, dsb.
Apa yang terjadi pada suatu siklus, apabila peneliti belum merasa puas? Alternatif pertama adalah guru (peneliti) dapat menyempurnakan intervensi sehingga pada siklus berikutnya dikembangkan dan dilakukan perubahan-perubahan berdasarkan saran siswa ataupun berdasarnya hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti. Yang jelas, setiap siklus harus ada upaya untuk ke arah perbaikan dalam hal proses sehingga menghasilkan pembelajaran yang berkualitas. Yang penting bahwa action research berorientasi pada improvement yang sering kali jalannya berkelok-kelok.

Berikut ini adalah contoh refleksi yang dilakukan oleh peneliti setelah melakukan satu putaran penelitian tindakan kelas.
Berdasarkan hasil tes dan nontes di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran pada siklus I ini belum memuaskan. Pada hasil tes terlihat bahwa rata-rata menulis hasil wawancara pada siklus I hanya 69,73 dan termasuk dalam kategori cukup. Sehingga belum mencapai target yang ditentukan. Siswa yang mencapai target hanya ada 20 siswa atau sebesar 52.63% dari jumlah keseluruhan siswa. Sehingga perlu diadakan siklus II agar semua siswa mencapai target yang telah ditentukan.
Dalam indikator membuat daftar pertanyaan, kelompok yang mendapat nilai rendah sebesar 65 dan termasuk dalam kategori cukup. Hal ini disebabkan kelompok tersebut belum mampu membuat pertanyaan dengan baik. Mereka tidak memperhatikan aspek kelengkapan isi (apa, siapa, di mana, kapan, mengapa, dan bagaimana). Mereka hanya membuat pertanyaan dengan menggunakan kata tanya bagaimana, apa, siapa, dari mana. Sedangkan kata tanya kapan dan
mengapa belum digunakan.
Selanjutnya dalam indikator mencatat pokok-pokok informasi, kelompok yang mendapat nilai rendah sebesar 60 dan termasuk dalam kategori cukup. Hal ini disebabkan siswa dalam kelompok tersebut tidak mencatat pokok-pokok informasi dengan baik. Mereka mencatat jawaban dengan singkat tidak menguraikan secara jelas. Misalnya pada pertanyaan siapa yang mengajari Audy dalam menyanyi? Hanya ditulis Ayah saya. Padahal saat wawancara berlangsung narasumber memberi jawaban dengan uraian yang cukup panjang dan jelas. Sehingga ada beberapa pokok-pokok informasi yang tidak tercatat. Hal ini disebabkan siswa mengalami kesulitan dalam menyimak dan menulis apa yang dibicarakan oleh narasumber, karena berbicara lebih cepat daripada menulis. Sehingga ada beberapa pokok-pokok informasi yang tidak tercatat. Oleh karena itu, perlu ada perbaikan dalam siklus II yaitu dengan memberi walkman untuk tiap-tiap kelompok, agar semua dapat terekam. Sehingga selain mencatat siswa bisa memutar ulang kaset tersebut untuk melengkapi pokok-pokok informasi yang tidak tercatat.
Dalam indikator menulis hasil wawancara siswa yang mendapat nilai rendah sebesar 49 dan termasuk dalam kategori sangat kurang. Hal ini disebabkan siswa tersebut hanya menulis hasil wawancara dengan satu paragraf, dan isinya hanya mencakup 2 pokok informasi, yang lainnya tidak sesuai dengan pokok-pokok informasi. Padahal dalam kelompok tersebut ada 11 pokok informasi. Sehingga hasil wawancara yang ditulis siswa tersebut tidak memperhatikan aspek kelengkapan isi dan kesesuaian atau keakuratan.

Kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis hasil wawancara dengan permainan simulasi yang diajarkan dalam pembelajaran kontekstual pada siklus I belum memuaskan. Namun demikian, pembelajaran dengan teknik permainan simulasi yang diajarkan melalui pembelajaran kontekstual ini memberikan dampak positif terhadap sikap atau tingkah laku siswa dalam menerima pembelajaran. Pada siklus I, masih ditemukan beberapa perilaku negatif yang terjadi pada saat pembelajaran. Pada siklus I ini sekitar 42,1% siswa masih menunjukkan perilaku yang negatif dalam menerima pelajaran, konsentrasi siswa dalam memperhatikan penjelasan guru belum penuh dan belum terfokus, mereka cenderung mengobrol dengan temannya. Selain itu, ada beberapa perilaku negatif yang muncul yaitu masih ada siswa yang tidak berpartisipasi secara aktif hanya ada 22 siswa atau sebesar 57,8% yang aktif. Kemudian sikap siswa dalam menulis hasil wawancara juga masih ada yang bersikap tidak baik seperti tiduran di atas meja, melihat tulisan teman, dan ada beberapa siswa yang menulis dengan memainkan handphone. Oleh karena itu, perlu adanya perbaikan pada siklus berikutnya yaitu dengan cara guru lebih mendesain pembelajaran agar lebih menarik lagi, sehingga siswa akan memperhatikan guru. Selain itu, diharapkan guru lebih tegas lagi dalam memberi teguran kepada siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru. Kemudian untuk mengatasi siswa yang kurang aktif khususnya dalam bersimulasi dalam wawancara maka pada siklus berikutnya dalam satu kelompok dibagi tugas 2 siswa bertugas sebagai tokoh atau narasumber, 2 siswa bertugas sebagai 2 siswa bertugas mencatat pokok-pokok informasi. Dengan demikian siswa akan lebih aktif, berbeda halnya apabila pembagian tugas hanya 1 siswa sebagai wawancara, dan 4 siswa sebagai pencatat pokok-pokok informasi. Dengan 4 siswa yang bertugas sebagai pencatat pokok-pokok informasi maka hanya 1 atau 2 siswa saja yang aktif sedangkan yang lainnya hanya mengobrol sendiri.

No comments:

Post a Comment

Strategi Tindakan dalam Penyusunan PTK

Alur sebuah penelitian pada akhirnya akan bermuara pada pembuatan laporan penelitian. Oleh sebab itu, laporan penelitian merupakan ba...