Andi Muhammad Yahya: 2013-08-25

Monday, 26 August 2013

Wacana Bahasa Indonesia

ANALISIS DAN REFLEKSI
Salah satu ciri khas profesionalitas adalah dilakukannya pengambilan keputusan ahli sebelum, sementara, dan setelah tindakan layanan ahli dilaksanakan. Dengan bermodalkan kemampuan dan wawasan kependidikan, Anda dapat membuat rancangan pembelajaran berdasarkan serentetan keputusan situasional dengan menggunakan apa yang telah Anda keketahui seperti tujuan, materi, kesiapan siswa dan dukungan lingkungan belajar sebagai titik-titik berangkat. 

Dengan bersenjatakan prinsip reaksi (principle of reaction) sebagai rujukan, Anda dapat melakukan diagnosis dan mengambil keputusan secara sangat cepat untuk melakukan penyesuaian (fine-tuning) yang diperlukan, sementara kegiatan dan peristiwa pembelajaran berlangsung. Sehingga dari apa yang tercapai dan tidak tercapai dalam sesuatu episode pembelajaran, serta dipandu oleh kerangka pikir perbaikan yang telah ditetapkan, Anda dapat mengidentifikasi sasaran perbaikan yang dikehendaki serta menjajaki strategi perbaikan yang perlu digelar untuk mewujudkannya.

Untuk dapat melakukan secara efektif pengambilan keputusan sebelum, sementara, dan setelah suatu program pembelajaran dilaksanakan, Anda sebagai guru dan terlebih-lebih ketika juga berperan sebagai pelaksana PTK, melakukan refleksi. Artinya, Anda merenungkan secara intens apa yang telah terjadi dan tidak terjadi, mengapa segala sesuatu terjadi dan/atau tidak terjadi, serta menjajaki alternatif-alternatif solusi yang perlu dikaji, dipilih dan dilaksanakan untuk dapat mewujudkan apa yang dikehendaki. Secara teknis, refleksi dilakukan dengan melakukan analisis dan sintesis, di samping induksi dan deduksi. Suatu proses analitik terjadi apabila objek kajian diuraikan menjadi bagian-bagian, serta dicermati unsur-unsurnya. Sedangkan suatu proses sintetik terjadi apabila berbagai unsun objek kajian yang telah diurai tersebut dapat ditemukan kesamaan esensinya secara konseptual sehingga dapat ditampilkan sebagai suatu kesatuan.

Dari banyak pengalaman keseharian, secara tidak sadar orang memusatkan perhatian pada ciri-ciri yang khas, yang kemudian diangkat atau diabstraksikan sebagai suatu sifat umum yang dapat mencakup sekumpulan pengalaman. Kumpulan pengamatan bahwa untuk hidup seekor kelinci harus makan, semut harus makan, ayam harus makan, ular harus makan, dan seterusnya menghasilkan simpulan bahwa untuk dapat hidup binatang harus makan. Simpulan yang diperoleh dengan berangkat dari kasus-kasus menuju pada atribut yang bersifat umum itu dinamakan induksi. 

Deduksi yang merupakan hasil berfikir deduktif diperoleh dengan berangkat drin hal abstrak yang berlaku umum, yang kemudian diterapkan pada kasus-kasus yang bersifat khusus. Untuk membuatnya menjadi deduksi, contoh induksi yang telah dikemukakan di atas itu cukup “dibalik secara logika” — (i) untuk hidup, semua binatang harus makan, yang merupakan suatu simpulan umum yang berlaku luas, dan (ii) karena ular adalah binatang, maka untuk dapat hidup ular ini juga harus makan.

Untuk berfikir induktif, dituntut kecukupan bukti empirik pendukung abstraksi; sedangkan untuk berfikir deduktif, dituntut kecukupan bukti jabaran atas konsep yang bersifat abstrak. Sebagaimana yang telah dikemukakan di atas, untuk berfikir refleksi dipersyaratkan pemanfaatan
secara intensif dan interaktif antara kajian induktif dan deduktif, antara pembuatan abstraksi dan pembuatan penjabaran. Hanya saja berbeda dan penelitian formal, proses refleksi dalam rangka penyelenggaraan praksis profesional termasuk yang digunakan dalam rangka PTK , dukungan data terhadap kesimpulan kurang luas dan sistematis. Sebaliknya, pelaksanaan refleksi lebih menuntut kemampuan intuitif yang dipicu oleh kepedulian yang tinggi terhadap kemaslahatan peserta didik di samping akumulasi pengalaman praktis yang kaya. 

Bagaimana penilaian mutu hasil induksi, atau deduksi, atau refleksi? Indikator mutu pada induksi dan deduksi adalah luasnya dukungan empirik dan dukungan bukti jabaran. Sedangkan indikator mutu pada refleksi adalah terutama tertangkapnya esensi dan makna sehingga tindakan perbaikan yang dijabarkan daripadanya menunjukkan efektivitas yang cukup tinggi. Dengan kata lain, batu ujian dan keberhasilan kinerja yang reflektif adalah kemanfaatan, seperti yang berlaku dalam pendekatan klinik di bidang medik (Muhadjir,1997). 

Dalam PTK dikembangkan kemampuan berfikir reflektif atau kemampuan mencermati kembali secara lebih rinci segala sesuatu yang telah dilakukan beserta hasil-hasilnya, baik yang positif maupun negatif kegiatan semacam itu dalam PTK diperlukan untuk menemukan titik-titik rawan sehingga dapat dilanjutkan dengan mengidentifikasikan serta menetapkan sasaran-sasaran perbaikan baru, menyusun perencanaan baru, mengimplentasikan tindakan baru, atau sekadar untuk menjelaskan kegagalan implementasi tindakan perbaikan. Dengan kata lain, refleksi dalam arti metodologik merupakan upaya membuat deduksi dan induksi silih berganti secara tepat meskipun tanpa dukungan data yang memenuhi semua persyaratan secara tuntas. Namun, sebaliknya, kecepatan dalam menemukan gagasan-gagasan kunci yang dilandasi oleh refleksi secara akumulatif menampilkan mutu kinerja yang tinggi. Dengan kata lain, tindakan yang reflëktif terbukti membuahkan berbagai perbaikan praksis yang nyata (Natawidjaya, 1997).

1. Analisis Data
Berbeda dan interpretasi data hasil tiap observasi yang dijadikan bahan diskusi balikan sebagai tindak lanjut dan suatu observasi sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, analisis data dalam rangka refleksi setelah implementasi suatu paket tindakan perbaikan mencakup proses dan dampak seperangkat tindakan perbaikan dalam sesuatu siklus PTK sebagai keseluruhan. Dalam hubungan ini analisis data adalah proses menyeleksi, meyederhanakan, memfokuskan, mengabstraksikan, mengorganisasikan data secara sistematik dan rasional untuk menampilkan bahan-bahan yang dapat digunakan untuk menyusun jawaban terhadap tujuan PTK. 

Analisis data dilakukan melalui tiga tahap, yaitu deduksi data, paparan data, dan penyimpulan. Reduksi data adalah proses penyederhanaan yang dilakukan melalui seleksi, pemfokusan dan
pengabstraksian data mentah menjadi informasi yang bermakna. Paparan data adalah proses penampilan data secara lebih sederhana dalam bentuk paparan naratif, representasi tabular termasuk dalam format matriks, representasi grafis, dan sebagainya. Sedangkan penyimpulan adalah proses pengambilan intisari dan sajian data yang telah terorganisasi tersebut dalam bentuk pernyataan kalimat dan/atau formula yang singkat dan padat, tetapi mengandung pengertian luas. 

2. Refleksi
Sebagaimana telah dikemukakan di atas, refleksi dalam PTK adalah upaya untuk mengkaji apa yang telah dan/atau tidak terjadi, apa yang telah dihasilkan atau yang belum berhasil dituntaskan oleh tindakan perbaikan yang telah dilakukan. Hasil refleksi itu digunakan untuk menetapkan
langkah lebih lanjut dalam upaya mencapai tujuan PTK. Dengan kata lain, refleksi .merupakan pengkajian terhadap keberhasilan atau kegagalan dalam pencapaian tujuan sementara dan untuk menentukan tindak lanjut dalam rangka mencapai tujuan akhir yang mungkin ditetapkan dalam rangka pencapaian berbagai tujuan sementara lainnya. Apabila dicermati, dalam proses refleksi tersebut dapat ditemukan komponen-komponen sebagai berikut.
a. ANALISIS
b. PEMAKNAAN
c. PENJELASAN
d. PENYUSUNAN SIMPULAAN
e. IDENTIFIKASI
f. TINDAK LANJUT

Kesemuanya itu dilakukan dalam kerangka berpikir tindakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Meskipun di antara kelima komponen tersebut tampak terdapat urutan yang logis, dalam kenyataannya kelima komponen terkunjungi secara bersamaan dan bolak-balik selama refleksi berlangsung. Dengan bertolak dan gambaran menyeluruh mengenai apa yang telah terjadi pada
siklus PTK yang baru terselesaikan, maka pelaksana PTK ada pada posisi untuk menetapkan tindak lanjut. Apabila memang masih dipandang perlu, kembali dengan selalu merujuk pada kerangka pikir tindakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya. 

Untuk menetapkan tindakan yang akan diambil pada tahap berikutnya, seorang pelaksana PTK tidak boleh hanya terpaku pada pemikiran tentang sebab-sebab dan kejadian-kejadian pada fase sebelumnya, namun juga perlu merenungkan kembali mengenai kekuatan dan kelemahan tindakan yang telah dilakukan, memprakirakan peluang keberhasilan, di samping memperhitungkan kcndala-kendala yang kemungkinan menghadang di depan. Juga perlu dipertimbangkannya kemungkinan-kemungkinan dampak samping dan tindakan yang direncanakan itu. 

Dengan menggunakan gambaran yang diperoleh dari pengalaman pada fase sebelumnya serta menilai kembali sasaran perbaikan yang telah ditetapkan, yang dibingkai dalam kerangka pikir hajat perbaikan yang merupakan fokus PTK , maka terbuka peluang untuk mengidentifikasi
sasaran-sasarán perbaikan yang baru, dan pada gilirannya, menyusun rencana tindakan perbaikan yang baru. ini juga berarti apabila keseluruhan hajat perbaikan dalam sebuah PTK dapat diwujudkan, maka guru dapat merambah permasalahan-permasalahan lain yang masih memerlukan penanganan dan melancarkan paket PTK yang baru. Kemungkinan berlangsungnya perbaikan yang berkelanjutan karena dipicu oleh PTK sebagaimana telah diutarakan sebelumnya.

Akhirnya, tidak perlu kiranya ditekankan kembali bahwa dalam PTK yang diselenggarakan secara kolaboratif, refleksi ini juga harus dilakukan secara kolaboratif. Penekanan ini dikemukakan tentu bukan dengan maksud untuk menafikan kemanfaatan refleksi perorangan dalam PTK yang dilaksanakan secara kolaboratif sebab pada akhirnya seorang pekerja profesional harus mampu mengambil keputusan serta melakukan tindakan secara mandiri. Bahkan kemandirian dalam bertindak disamping tanggung jawab penuh terhadap segala risikonya itu justru merupakan manifestasi profesionalitas. Oleh karena itu, yang hendak ditekankan dalam hubungan ini adalah pemanfaatan interaksi kesejawatan termasuk kesediaan serta kemampuan untuk saling memberikan balikan sebagai peluang untuk saling belajar yang pada gilirannya, dapat bermuara pada pertumbuhan dalam jabatan yang berkelanjutan bagi kedua belah pihak.

Strategi Tindakan dalam Penyusunan PTK

Alur sebuah penelitian pada akhirnya akan bermuara pada pembuatan laporan penelitian. Oleh sebab itu, laporan penelitian merupakan ba...