ANALISIS
DAN REFLEKSI
Salah satu ciri khas profesionalitas adalah dilakukannya
pengambilan keputusan ahli sebelum, sementara, dan setelah tindakan layanan
ahli dilaksanakan. Dengan bermodalkan kemampuan dan wawasan kependidikan, Anda
dapat membuat rancangan pembelajaran berdasarkan serentetan keputusan
situasional dengan menggunakan apa yang telah Anda keketahui seperti tujuan,
materi, kesiapan siswa dan dukungan lingkungan belajar sebagai titik-titik
berangkat.
Dengan bersenjatakan prinsip reaksi (principle of
reaction) sebagai rujukan, Anda dapat melakukan diagnosis dan mengambil
keputusan secara sangat cepat untuk melakukan penyesuaian (fine-tuning) yang
diperlukan, sementara kegiatan dan peristiwa pembelajaran berlangsung. Sehingga
dari apa yang tercapai dan tidak tercapai dalam sesuatu episode pembelajaran,
serta dipandu oleh kerangka pikir perbaikan yang telah ditetapkan, Anda dapat
mengidentifikasi sasaran perbaikan yang dikehendaki serta menjajaki
strategi perbaikan yang perlu digelar untuk mewujudkannya.
Untuk dapat melakukan secara efektif pengambilan keputusan
sebelum, sementara, dan setelah suatu program pembelajaran dilaksanakan, Anda
sebagai guru dan terlebih-lebih ketika juga berperan sebagai pelaksana PTK,
melakukan refleksi. Artinya, Anda merenungkan secara intens apa yang
telah terjadi dan tidak terjadi, mengapa segala sesuatu terjadi dan/atau tidak
terjadi, serta menjajaki alternatif-alternatif solusi yang perlu dikaji,
dipilih dan dilaksanakan untuk dapat mewujudkan apa yang dikehendaki. Secara
teknis, refleksi dilakukan dengan melakukan analisis dan sintesis, di samping
induksi dan deduksi. Suatu proses analitik terjadi apabila objek kajian
diuraikan menjadi bagian-bagian, serta dicermati unsur-unsurnya. Sedangkan
suatu proses sintetik terjadi apabila berbagai unsun objek kajian yang telah
diurai tersebut dapat ditemukan kesamaan esensinya secara konseptual sehingga dapat
ditampilkan sebagai suatu kesatuan.
Dari banyak pengalaman keseharian, secara tidak sadar orang
memusatkan perhatian pada ciri-ciri yang khas, yang kemudian diangkat atau
diabstraksikan sebagai suatu sifat umum yang dapat mencakup sekumpulan
pengalaman. Kumpulan pengamatan bahwa untuk hidup seekor kelinci harus makan,
semut harus makan, ayam harus makan, ular harus makan, dan seterusnya
menghasilkan simpulan bahwa untuk dapat hidup binatang harus makan. Simpulan
yang diperoleh dengan berangkat dari kasus-kasus menuju pada atribut yang
bersifat umum itu dinamakan induksi.
Deduksi yang merupakan hasil berfikir deduktif diperoleh
dengan berangkat drin hal abstrak yang berlaku umum, yang kemudian diterapkan
pada kasus-kasus yang bersifat khusus. Untuk membuatnya menjadi deduksi, contoh
induksi yang telah dikemukakan di atas itu cukup “dibalik secara logika” — (i) untuk hidup, semua binatang harus
makan, yang merupakan suatu simpulan umum yang berlaku luas, dan (ii) karena
ular adalah binatang, maka untuk dapat hidup ular ini juga harus makan.
Untuk berfikir induktif, dituntut kecukupan bukti empirik
pendukung abstraksi; sedangkan untuk berfikir deduktif, dituntut kecukupan
bukti jabaran atas konsep yang bersifat abstrak. Sebagaimana yang telah
dikemukakan di atas, untuk berfikir refleksi dipersyaratkan pemanfaatan
secara intensif dan interaktif antara kajian induktif dan
deduktif, antara pembuatan abstraksi dan pembuatan penjabaran. Hanya saja
berbeda dan penelitian formal, proses refleksi dalam rangka penyelenggaraan
praksis profesional termasuk yang digunakan dalam rangka PTK , dukungan data
terhadap kesimpulan kurang luas dan sistematis. Sebaliknya, pelaksanaan
refleksi lebih menuntut kemampuan intuitif yang dipicu oleh kepedulian yang
tinggi terhadap kemaslahatan peserta didik di samping akumulasi pengalaman
praktis yang kaya.
Bagaimana penilaian mutu hasil induksi, atau deduksi, atau
refleksi? Indikator mutu pada induksi dan deduksi adalah luasnya dukungan
empirik dan dukungan bukti jabaran. Sedangkan indikator mutu pada refleksi
adalah terutama tertangkapnya esensi dan makna sehingga tindakan perbaikan yang
dijabarkan daripadanya menunjukkan efektivitas yang cukup tinggi. Dengan kata
lain, batu ujian dan keberhasilan kinerja yang reflektif adalah kemanfaatan,
seperti yang berlaku dalam pendekatan klinik di bidang medik (Muhadjir,1997).
Dalam PTK dikembangkan kemampuan berfikir reflektif atau
kemampuan mencermati kembali secara lebih rinci segala sesuatu yang telah
dilakukan beserta hasil-hasilnya, baik yang positif maupun negatif kegiatan
semacam itu dalam PTK diperlukan untuk menemukan titik-titik rawan sehingga
dapat dilanjutkan dengan mengidentifikasikan serta menetapkan sasaran-sasaran
perbaikan baru, menyusun perencanaan baru, mengimplentasikan tindakan baru,
atau sekadar untuk menjelaskan kegagalan implementasi tindakan perbaikan.
Dengan kata lain, refleksi dalam arti metodologik merupakan upaya membuat
deduksi dan induksi silih berganti secara tepat meskipun tanpa dukungan data
yang memenuhi semua persyaratan secara tuntas. Namun, sebaliknya, kecepatan
dalam menemukan gagasan-gagasan kunci yang dilandasi oleh refleksi secara
akumulatif menampilkan mutu kinerja yang tinggi. Dengan kata lain, tindakan
yang reflëktif terbukti membuahkan berbagai perbaikan praksis yang nyata
(Natawidjaya, 1997).
1. Analisis Data
Berbeda dan interpretasi data hasil tiap observasi yang
dijadikan bahan diskusi balikan sebagai tindak lanjut dan suatu observasi
sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, analisis data dalam rangka refleksi
setelah implementasi suatu paket tindakan perbaikan mencakup proses dan dampak
seperangkat tindakan perbaikan dalam sesuatu siklus PTK sebagai keseluruhan.
Dalam hubungan ini analisis data adalah proses menyeleksi, meyederhanakan,
memfokuskan, mengabstraksikan, mengorganisasikan data secara sistematik dan
rasional untuk menampilkan bahan-bahan yang dapat digunakan untuk menyusun
jawaban terhadap tujuan PTK.
Analisis data dilakukan melalui tiga tahap, yaitu deduksi
data, paparan data, dan penyimpulan. Reduksi data adalah proses penyederhanaan
yang dilakukan melalui seleksi, pemfokusan dan
pengabstraksian data mentah menjadi informasi yang bermakna.
Paparan data adalah proses penampilan data secara lebih sederhana dalam bentuk
paparan naratif, representasi tabular termasuk dalam format matriks,
representasi grafis, dan sebagainya. Sedangkan penyimpulan adalah proses
pengambilan intisari dan sajian data yang telah terorganisasi tersebut dalam
bentuk pernyataan kalimat dan/atau formula yang singkat dan padat, tetapi
mengandung pengertian luas.
2. Refleksi
Sebagaimana telah dikemukakan di atas, refleksi dalam PTK
adalah upaya untuk mengkaji apa yang telah dan/atau tidak terjadi, apa yang
telah dihasilkan atau yang belum berhasil dituntaskan oleh tindakan perbaikan
yang telah dilakukan. Hasil refleksi itu digunakan untuk menetapkan
langkah lebih lanjut dalam upaya mencapai tujuan PTK. Dengan
kata lain, refleksi .merupakan pengkajian terhadap keberhasilan atau kegagalan
dalam pencapaian tujuan sementara dan untuk menentukan tindak lanjut dalam rangka
mencapai tujuan akhir yang mungkin ditetapkan dalam rangka pencapaian berbagai tujuan sementara lainnya. Apabila
dicermati, dalam proses refleksi tersebut dapat ditemukan komponen-komponen
sebagai berikut.
a. ANALISIS
b. PEMAKNAAN
c. PENJELASAN
d. PENYUSUNAN
SIMPULAAN
e. IDENTIFIKASI
f. TINDAK
LANJUT
Kesemuanya itu dilakukan dalam kerangka berpikir tindakan
perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Meskipun di antara kelima komponen tersebut tampak terdapat
urutan yang logis, dalam kenyataannya kelima komponen terkunjungi secara
bersamaan dan bolak-balik selama refleksi berlangsung. Dengan bertolak dan
gambaran menyeluruh mengenai apa yang telah terjadi pada
siklus PTK yang baru terselesaikan, maka pelaksana PTK ada
pada posisi untuk menetapkan tindak lanjut. Apabila memang masih dipandang
perlu, kembali dengan selalu merujuk pada kerangka pikir tindakan perbaikan
yang telah ditetapkan sebelumnya.
Untuk menetapkan tindakan yang akan diambil pada tahap
berikutnya, seorang pelaksana PTK tidak boleh hanya terpaku pada pemikiran
tentang sebab-sebab dan kejadian-kejadian pada fase sebelumnya, namun juga perlu merenungkan kembali mengenai
kekuatan dan kelemahan tindakan yang telah dilakukan, memprakirakan peluang
keberhasilan, di samping memperhitungkan kcndala-kendala yang kemungkinan
menghadang di depan. Juga perlu dipertimbangkannya kemungkinan-kemungkinan
dampak samping dan tindakan yang direncanakan itu.
Dengan menggunakan gambaran yang diperoleh dari pengalaman
pada fase sebelumnya serta menilai kembali sasaran perbaikan yang telah
ditetapkan, yang dibingkai dalam kerangka pikir hajat perbaikan yang merupakan
fokus PTK , maka terbuka peluang untuk mengidentifikasi
sasaran-sasarán perbaikan yang baru, dan pada gilirannya,
menyusun rencana tindakan perbaikan yang baru. ini juga berarti apabila
keseluruhan hajat perbaikan dalam sebuah PTK dapat diwujudkan, maka guru dapat
merambah permasalahan-permasalahan lain yang masih memerlukan penanganan dan
melancarkan paket PTK yang baru. Kemungkinan berlangsungnya perbaikan yang
berkelanjutan karena dipicu oleh PTK sebagaimana telah diutarakan sebelumnya.
Akhirnya, tidak perlu kiranya ditekankan kembali bahwa dalam
PTK yang diselenggarakan secara kolaboratif, refleksi ini juga harus dilakukan
secara kolaboratif. Penekanan ini dikemukakan tentu bukan dengan maksud untuk
menafikan kemanfaatan refleksi perorangan dalam PTK yang dilaksanakan secara
kolaboratif sebab pada akhirnya seorang pekerja profesional harus mampu
mengambil keputusan serta melakukan tindakan secara mandiri. Bahkan kemandirian
dalam bertindak disamping tanggung jawab penuh terhadap segala risikonya itu
justru merupakan manifestasi profesionalitas. Oleh karena itu, yang hendak
ditekankan dalam hubungan ini adalah pemanfaatan interaksi kesejawatan termasuk
kesediaan serta kemampuan untuk saling memberikan balikan sebagai peluang untuk
saling belajar yang pada gilirannya, dapat bermuara pada pertumbuhan dalam
jabatan yang berkelanjutan bagi kedua belah pihak.